Jumat, 06 Mei 2016

KIRIMAN DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA : "BUDI PEKERTI"

Blog Ki Slamet 42 : Ojo Dumeh
Sabtu, 07 Mei 2016 - 02:12 WIB

DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA ( Penulis Buku )

"Budi Pekerti"


Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam
menjalani kehidupanini. Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Pada saat ini dimana  sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.

Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan(Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi). Dengan definisi yang teramat gamblang, sederhana dan tidak muluk-muluk,  kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti. Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.

Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan
mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak
disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti : melakukan
pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

Penanaman Budi Pekerti

Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan
dimasyarakat.

Dirumah dan keluarga

Sejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik
dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak
yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan. Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi
pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika
berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap: nuwun sewu(permisi), nderek langkung (perkenankan lewat sini).

Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko(bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh bahasa (penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain.

Bahasa kromo dan ngoko

Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa, yaitu:  

Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko
biasanya dipakai antar teman. Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :

Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo : Kulo bade kesah.
Ngoko : Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko,
sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.

Ora ilok, suatu kearifan

Orang tua zaman dulu sering bilang : ora ilok,artinya tidak baik, untuk melarang anaknya.Jadi anak tidak secara langsung dilarang, apalagi dimarahi.Ungkapan tersebut dimaksudkan , agar si anak tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau mengganggu keharmonisan alam. Misalnya ungkapan : Ora ilok ngglungguhi bantal, mengko wudhunen (Tidak baik menduduki bantal, nanti bisulan). Maksudnya supaya tidak menduduki bantal, karena bantal itu alas kepala. Meludah sembarang tempat atau membuang sampah tidak pada tempatnya, juga dibilang ora ilok, tidak baik. Tempo dulu, orang tua enggan menjelaskan, tetapi sebenarnya itu merupakan kearifan. Lebih baik melarang dengan arif, dari pada dengan cara keras.

Tembang yang bermakna

Pada dasarnya, pendidikan informal dirumah, dikalangan keluarga adalah ditujukan kepada harapan terbaik bagi anak asuh. Coba perhatikan ayah atau ibu yang meninabobokkan anak dengan kasih sayang melantunkan tembang untuk menidurkan anak , isinya penuh permohonan kepada Sang Pencipta, seperti tembang: Tak lelo-lelo ledung, mbesuk gede pinter sekolahe, dadi mister, dokter, insinyur. (Sayang, nanti sudah besar pintar sekolahnya, jadi sarjana hukum, dokter atau insinyur). Atau doa dan  permohonan yang lain : Mbesuk gede, luhur bebudhene,jumuring ing
Gusti, angrungkubi nagari
(Bila sudah dewasa terpuji budi pekertinya, mengagungkan Tuhan dan berbakti kepada negara).

Pendidikan tradisional zaman dulu mengandung kesabaran, nerimo ing pandhum, pasrah, ayem tentrem, tansah eling marang Pangeran ( selalu dengan sabar menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan, pasrah. Pengertian pasrah adalah tekun berusaha dan menyerahkan keputusan kepada Tuhan.Hati tenang tentram, selalu ingat kepada Tuhan).Perlu digaris bawahi bahwa kepercayaan orang Jawa tradisional kepada Tuhan itu sudah mendarah daging sejak masa kuno, sehingga anak-anak Jawa sejak kecil sudah sering mendengar kata-kata orang tua : Kabeh sing neng alam donya iku ana margo kersaning Gusti. (Semua yang ada didunia ini ada karena kehendak Tuhan).Sehingga bagi orang Jawa tradisional, apapun yang terjadi, akan selalu pasrah dan mengagungkan Gusti/Tuhan. Itu sudah menjadi watak bawaan yang mendarah daging. Biasanya ketika anak mulai berumur lima tahunan, secara naluri mulai diterapkan ajaran unggah-ungguh, sopan santun, etika, menghormati orang tua dan orang lain. Inkulturisasi, penanaman etika ini sangat penting karena menjadi dasar supaya si anak hingga dewasa dapat membawa diri dan diterima dalam pergaulan dimasyarakat, mampu bersosialisasi dan punya budaya malu. Punya sikap mendahulukan kepentingan orang lain, peka dan peduli kepada sekeliling dan lingkungan. Punya kebiasaan hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan hormat dilingkungan keluarga dan masyarakat. Penanaman sikap sejak dini ini penting karena akan merasuk dalam rasa, sehingga kepekaannya tidak mudah hilang.

Peduli Lingkungan

Pendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam.

Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing,
burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik,
memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih
dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi. Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.

Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna. Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber
air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori. Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam dan Sang Pencipta.

Pendidikan formal

Selain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif,
pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting. Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti. Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian. Tentu, juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat. Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.

Etika Pergaulan

Sebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.

Pelajaran dari cerita wayang

Cerita yang bersumber dari pewayangan juga penting untuk pendidikan budi
pekerti secara umum. Bagi orang Jawa tradisional, apa yang dikisahkan dalam wayang adalah merupakan cermin dari kehidupan, oleh karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat ini.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pewayangan adalah , antara lain:

1.                Didunia ini ada baik dan jahat, pada akhirnya yang baik yang menang,tetapi setiap saat yang jahat akan berusaha untuk menggoda lagi.
2.                Ikutilah contoh dari sikap hidup Pandawa, lima satria putra Pandu yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan satria-satria yang lain yang mempunyai watak luhur, jujur, sopan. Mereka berjuang demi kebenaran, untuk kesejahteraaan rakyat dan negara. Mereka dengan tekun dan ikhlas mendalami spiritualitas, kebatinan. Mereka menggunakan kemampuan, kesaktiannya untuk tujuan yang mulia. Satria itu orang yang berbudi pekerti, berwatak luhur dan bertanggung jawab.Jangan mencontoh sikap para Korawa, seratus orang putra Destarata,yaitu Duryudana dan adik-adiknya beserta kroni-kroninya. Mereka itu tidak jujur, serakah mencari kekayaan materi dan kekuasaan, sikapnya kasar, tidak sopan, culas.Mereka digambarkan sebagai raksasa. Raksasa dalam bahasa Jawa adalah Buto artinya buta, tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat, yang salah dan yang benar.
3.               Dari epoch Ramayana,Prabu Rama, Anoman dan anah buahnya punya watak satria luhur, sebaliknya Rahwana,
Sarpakenaka adalah raksasa-raksasa yang rakus dan keji, tanpa rasa kemanusiaan.
4.                Penghuni Alam Raya ini tidak hanya manusia, hewan dan mahluk yang kasat mata, tetapi juga ada mahluk-mahluk lain yang biasanya disebut mahluk halus, ada yang baik dan ada yang jahat wataknya.
5.                Ada alam Kadewatan yang dihuni dewa dewi yaitu di Kahyangan. Penguasa Jagat Raya adalah Sang Hyang Wenang yang dalam pelaksanaannya memberi wewenang kepada Batara Guru.
6.                 Dalam hidupnya manusia selalu mensyukuri berkah dan anugerah Tuhan,
selalu berdoa dan mengagungkan Tuhan, Sang Pencipta.Garis kehidupan manusia sesuai ketentuan yang diketahui dan diizinkan Tuhan.Titah bisa berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagat Raya, Tuhan melalui perantaraan dewa dewi ataupun secara langsung. Ini tentu merupakan anugerah Gusti kepada titahnya yang terpilih, tidak sembarang orang. Pemberitahuan Ilahi juga bisa diterima melalui wahyu secara langsung ataupun lewat mimpi.Dalam cerita wayang, seseorang bisa dikontak oleh utusan Kahyangan setelah bertapa ditempat yang sepi untuk beberapa
saat(.Dewa-dewi dalam pengertian lain bisa disebut  Malaikat atau Angels).
7.                Manusia yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dibumi ini oleh Sang Pencipta, tidak layak kalau menyia-nyiakan hidupnya. Dia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti, melaksanakan darma anak manusia untuk memayu hayuning bawana (Melestarikan bumi dan mempercantik kehidupan dibumi.)              
                                                                          
Legenda –legenda tanah Jawa menggambarkan :

1.                          1.   Adanya raja-raja dan penguasa yang adil dan tidak adil;ada yang baik,
bijak, tetapi ada juga yang bengis dan kejam.’
   2.          Kejujuran dan kelicikan.
   3.          Pahlawan dan pengkhianat
   4.          Negeri aman, adil makmur dan negeri yang serba semrawut dan kacau.
   5.          Kekuasaan untuk rakyat dan penyalahgunaan kekuasaan. 
   6.          Masyarakat adil makmur tata tentram kerta raharja adalah suasana
kehidupan masyarakat yang didambakan orang Jawa.

Tatakrama dan Tata Susila

Tatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang. Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan. Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :

1.                 Jujur, tidak menipu, welas asih kepada sesama. Berkelakuan baik tidak melakukan Mo Limo, yaitu : Main/berjudi; madon/ main perempuan atau
selingkuh;mabuk karena minuman keras;madat menggunakan narkoba dan maling. Tentu saja tindakan jahat yang lain seperti membunuh, menista, mengakali,memeras, menyuap, melanggar hukum dan berbuat kejam ,harus tidak dilakukan.

2.                 Berperilaku baik dengan menghindari perbuatan salah, supaya nama baik
tetap terjaga dan supaya tidak kena malu.Terkena malu bagi orang Jawa
tradisional adalah kehilangan kehormatan.Ada pepatah Jawa menyatakan :
Kehilangan  semua harta milik itu tidak kehilangan apapun; kehilangan
nyawa artinya kehilangan separoh hidup kita; tetapi kalau kehilangan kehormatan artinya kehilangan semuanya.

3.                Memelihara kerukunan, bebas dari konflik diantara keluarga, tetangga,
kampung, desa, selanjutnya ditingkat negara dan dunia, dimana hubungan harmonis antar manusia teramat penting. Kerusakan dan kekacauan yang timbul didunia ini, yang paling besar adalah dikarenakan oleh sikap manusia’Ingatlah pepatah: Rukun agawe santoso artinya : Rukun membuat kita sehat kuat.

4.                Bersikap sabar, nrimo artinya menerima dengan ikhlas dan sadar jalan
kehidupan kita dan tidak perlu iri kepada sukses orang lain Ingin hidup sukses harus berusaha dengan keras dan rajin dan mohon restu Tuhan, hasilnya terserah Tuhan.

5.                Tidak bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ada petuah : Sepi ing pamrih, rame ing gawe.artinya bertindak tanpa pamrih dan selalu siap bekerja demi kepentingan  masyarakat dan kesejahteraan umat.Sikap yang demikian ,mudah menimbulkan tindakan ber-gotong royong, baik dalam lingkungan kecil maupun besar.

6.                Gotong Royong adalah kerjasama saling membantu dan hasilnya sama-sama dinikmati. Ini bisa berlaku diskop kecil seperti antar tetangga kampung yang merupakan kebiasaan yang sudah berjalan sejak masa kuno. Yang digotong royongkan antara lain : sama-sama membersihkan jalan desa, memperbaiki pra sarana seperti jalan desa, saluran air, balai desa dsb.Ada juga yang bergotong royong ramai-ramai membangun rumah seorang warga dll. Jadi pada intinya gotong royong adalah kerjasama antar beberapa pihak yang menghasilkan nilai lebih dipelbagai bidang yang dikerjakan bersama tersebut. Dasar gotong royong adalah sukarela dan untuk kepentingan bersama yang meliputi bidang-bidang perawatan,
pembangunan, produksi dll.Tiap peserta akan menangani bidang pekerjaan yang merupakan kemahirannya dan itu akan bersinerji dengan ketrampilan peserta lain dan “proyek” akan berjalan lancar.Berdasarkan pengalaman yang sukses dari gotong royong lingkup kecil,  gotong royong bisa dipraktekkan berupa sinerji yang berskala nasional, regional ,bahkan internasional.

Kembali ke Budi Pekerti

Pada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab
pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan, kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang  baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya  para politikus.  Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang,
Ini zaman edan!
Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua
orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin  lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang
Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.

Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada  sedikit
keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi (Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara). Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti. Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal. Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap  (peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon ( dapat diandalkan)


GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: KIRIMAN DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA : "BUDI PEKERTI"...: Blog Ki Slamet 42 : Guru SMAN 42 Jakarta Menulis Sabtu, 07 Mei 2016 - 01:05 WIB DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA ( Penulis Buku )

Minggu, 20 Maret 2016

“AJARAN SABDA PALON" Karya : Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : Ojo Dumeh
Minggu, 20 Maret 2016 - 20:40 WIB

Image "Ki Lurah Semar Badranaya ( Foto: Google )
Ki Lurah Semar Badranaya

“AJARAN SABDA PALON"
Karya : Ki Slamet 42

Tertera di dalam kitab kuno pusaka luhur berbudi
Kitab Sabda Palon berisi ajaran-ajaran moral tinggi
Agar kita bisalah menggapai derajat manusia sejati
Yang tutur sapanya lembut tiada pernah menyakiti
Apalagi bersifat penuh rasaan iri syirik dan dengki

Adapun untuk mencapai tingkat sejatinya manusia
Harus mengamalkan sikap dan perilaku Gandharwa
Berjiwa bersih  yang dilambari dengan  sikap utama
Yang selalu melekat kuat bersemayam di dalam jiwa
Utama gandarwa, tingkatkan laku, tekun dan setia

Pertama utamakan kemanunggalan dalam gandarwa
Selalu mengingat Tuhan, menyatu dengan sifat-Nya
Penuh rasa kasih bersifat adil, jujur, dan bijaksana
Tidak tamak, tidak serakah, tidak bersikap jumawa
   Baik kepada alam, khewan maupun kepada manusia   

Kedua,  tingkatkan kawruh dan laku untuk sesama
Selalu belajar dan terus belajar menumbuhkan daya
Amalkan dan praktikkan kepandaian kepada sesama
Demi kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan bangsa
Tanpa pamrih dipenuhi rasa tulus dan ikhlas semata

Ketiga,  melakukan sesuatu  dengan tekun dan setia
Miliki komitmen tinggi  dengan  apa yang diyakininya
Setia dan punya rasa dedikasi dalam amalkan segala
Baik berupa ajaran pun kemampuan yang dimilikinya
Semua dilakukan ‘tuk cari keridhoan Tuhan semata

Jika manusia mampu lakoni dan bisa capai Gandarwa
Mengamalkan ketiganya maka di dalam sosok dirinya
Akan bersemayam kuat moralitas jiwa kokoh berjaya
Sugih tanpa banda sakti tanpa aji ngluruk tanpa bala
Menang tanpa perang, apa yang dinginkan jadi nyata


Minggu, 20 Maret 2016 – 15:56 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor
 

Jumat, 04 Maret 2016

BULAN SEMBUNYI DI BALIK AWAN Karya : Ki Slamet 42...

Blog : "OJO DUMEH"
Sabtu, 05 Maret 2016 - 10:35 WIB
 
Image: Ajuna Begawan Ciptaning
Arjuna Begawan Ciptaning
BULAN SEMBUNYI DI BALIK AWAN
Karya : Ki Slamet 42


Di  jelang petang  ketika malam merayap perlahan
Kususuri jalan  yang ditumbuhi semak berserakan
Di  tepian kali Kudil  yang airnya mulai kehitaman
Yang banyak  dikotori limbah sampah perumahan
Dari orang-orang  yang tak peduli lagi kebersihan


Di  langit sana  ada bulan sembunyi di balik awan
Bersinarkan  cahaya putih  yang kuning keemasan
Tersenyum  malu  tiada mau  pamer kerupawanan
Namun  pancaran cahayanya  dipenuhi kesejukan
Bagaikan cinta kasih  Sang Ibu  sepanjang zaman


Ketika kaki terasa lelah untuk melangkah berjalan
Maka akupun duduklah lalu  menyandarkan badan
Pada sebongkah batu kali kudil yang ada di tepian
Yang  ditumbuhilumut-lumut  hijau  menyegarkan
Dan kepala tengadah mataku menatap sang bulan

Bulan yang masih di balik awan seperti beri pesan
Agar kita tak bersikap dumeh penuh keangkuhan
Angkuh saat kita bergelimangkan harta kekayaan
Dumeh ketika kita mendapatkan amanah jabatan
Congkak dan sombong ketika kita dalam kejayaan

Merasa diri kita paling religius mesti disingkirkan
Merasa diri kita yang paling benar harus dijauhka
Merasa diri kita saja  yang paling pinta lenyapkan
Merasa diri kita saja yang paling terkuat, sirnakan
Oleh karena semuanya itu hanyalah milik T u h a n



Kp Pangarakan, Bogor
Sabtu, 05 Maret 2016 – 09:44 WIB







" SAJAK & PUISI KI SLAMET 42 ": BULAN SEMBUNYI DI BALIK AWAN Karya : Ki Slamet 42...: Sajak & Puisi Ki Slamet Priyadi Sabtu, 05 Maret 2016 - 10:10 WIB   Begawan Ciptaning BULAN SEMBUNYI DI BALIK AWAN Ka...

Sabtu, 07 November 2015

“SAAT ATMA GUNDAH GULANA” Karya : Ki Slamet 42


Image: "Ki Slamet 42 ( Foto : SP )
Ki Slamet 42



“SAAT ATMA GUNDAH GULANA”
Karya : Ki Slamet 42

Aku curah isi batin ini  saat merenung diri
Di  sisi tepi kali Bogowonto yang sunyi sepi
Saat merona sang Surya pagi  cerah berseri
Nan bercahaya kemilau sinari Dewi Pertiwi

Kusandarkan tubuh di batang pohon tinggi
Daun di ranting sonokeling  layang ke bumi
Aus terhembusi angin sepoi-sepoi  pagi hari
Menerpa wajah sumringah senanglah di hati

Pulpen hitam di lenganku terus menari-nari
Susun kata-kata jadikan kalimat penuh arti
Tentang kejadian alam yang terus bernyanyi
Senandungkan nada-nada indah makna asri

Riak air alir Bogowonto suarakan do sol mi
Ada  ular besar jalar di belukar pinggir kali
Lalu melingkar sebentar mata nanar dekati
Mulutnya mendesis ke arahku ba’ nasehati:

“Cucu, ada tujuan apa berada di tempat ini?
Sejak malam hingga pagi  tak beranjak pergi
Bermenung saja seorang diri di tempat sepi
Tiadakah cucu sadar bahaya selalu menanti?”


Mata nanar ular dan  desisnya yang ngegirisi
Buat jantung berdebar, mengetar-getar hati
Aku baca mantra sawer ular tenangkan diri
Sebab tahu dia Ki Bogowonto penguasa kali

“Maaf  mbah, tiada tuju apa-apa aku kemari
Lain ‘tuk curahan jiwani lewat tulisan puisi
Rekam geliat alam kampung halaman sendiri
Yang sudahlah lama sekali aku tinggal pergi”

 Rupa wadaklah ular penguasa kali  berganti
Seorang tua berkumis, berjenggot putih asli
Mengenakan pakaian tradisi  ethnik Jawani
Bersapa lemah lembut penuh rasa mengasihi

“Cucuku,  melihat dari wajah lekuk di dahi
Kau pasti keturunan seorang guru mengaji
Ki Martosedono yang dahulu di Luano sini
Jika begitu, terus bermesu diri lewat puisi!”

Begitulah pesan nasehat sang penguasa kali
Ki Bogowonto yang sebentarpun sirna pergi
Hilang secara gaib tiadalah ada nampak lagi
Kemudian kulanjutkan ungkap-curah jiwani
Pulpen di jemari kembali lincah menari-nari
Berkisah tentang peristiwa alam spritualiti
Yang hingga kini  masih ngiang di mata hati
Gambaran damainya alam bahagianya jiwani

Kp. Pangarakan, Bogor
Minggu, 08 November 2015 – 08:01 WIB
" SAJAK & PUISI KI SLAMET 42 ": “SAAT ATMA GUNDAH GULANA” Karya : Ki Slamet 42: “SAAT ATMA GUNDAH GULANA” Karya : Ki Slamet 42 Aku curah isi batin ini   saat merenung diri Di   sisi tepi kali Bogowonto ...

Jumat, 21 Agustus 2015

“SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet 42

Image "Golek" ( Foto: SP )
Golek "Dorna"
“SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH”
Karya : Ki Slamet 42
Selorohmu seakan kau sajalah yang terpintar
Berujar kata bahwa akulah yang paling benar
Jika orang  beda dengan pikirmu yang nyasar
Maka ekspresikan amarah berkata-kata kasar
Dalam rasamu, seakan kau sajalah yang besar
Tiada banding  ‘tuk bisa sanding  dalam gelar
Kemana-mana,  kepada siapa saja  berkelakar
Segalanya dianggap remeh tak ada rasa gusar
Suka mencemooh, orang lain dianggap bodoh
Gemar meleceh, meremeh, dumeh berseloroh
Tak bisa tenang tergopoh-gopoh dan ceroboh
Berjalan gagah tiada takut kesandung roboh
Sang Peremeh itu, memang miliki watak dumeh
Kepada orang lain selalu menganggapnya remeh
Umbyang-umbyung bersikap mencelah-menceleh
Ya, si Peremeh, memang dumeh suka  nyeleneh
Kp. Pangarakan, Bogor
Sabtu, 22 Agustus 2015 – WIB


"PUISI-PUISI SLAMET PRIYADI": “SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet...: Golek "Dorna" “SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet 42 Selorohmu seakan kau sajalah yang terpintar...