Sabtu, 27 September 2014

Empat Buah Puisi Duaributigabelas




Magi Sangit
Karya Slamet Priyadi

Burung Emprit terbang melayang melintas bukit
 Nun jauh di sana di atas langit,
Ada mantra menebarkan magi-magi sangit,
ba' virus penyakit yang terus tak henti menggigit
Timbulkan rasa sakit
Dan tubuh pun lemas tiada daya tak bisa lagi bangkit.

Pangarakan, 6 April 2013

Akang
Karya Slamet Priyadi

Akang…
Sudah tiga warsa ini engkau tak pernah lagi kasih kabar berita
Dan di sini aku semakin gundah gulana
Kerana anak-anak kita selalu menanyakan akang
Kapan ayah akan pulang, ma… ayah kapan pulang ?

Akang…
Sudah tiga warsa lebih lima bulan ini
Pun engkau masih jua tak mau beri kabar berita lagi
Sedangkan aku dan anak-anak kita di sini
Selalu terombang-ambing dalam ketidakpastian
Dalam kekhawatiran, dalam kesedihan, dalam ketakutan
Dan dalam penantian yang berkepanjangan
Sedangkan pertanyaan-pertanyaan itu
Pun tak pernah mendapatkan jawaban

Akang…
Sedang apakah engkau di sana?
Apakah negeri yang engkau singgahi sekarang lebih jelita?
Apakah keelokjelitaan itu telah membelenggumu?
Sebab begitulah warta yang telah aku terima

Akang…
Jika itu memang benar-benarlah adanya
Aku akan berupaya ikhlas menerima
Meskipun hati ini begitu sangat terluka
Perih terkoyak duka dan kecewa
Aku akan jalani hidup ini dengan penuh ketawakalan
Bersama anak-anak kita ‘tuk meraih masa depan
Dan aku akan selalu mendoakan
Semoga kau selalu mendapatkan kebahagiaan  



Pangarakan, Bogor

Minggu, 07 April 2013 11:50wib



Inspirasi Dari Kali Sadane
Karya Slamet Priyadi

Gemericik air Sungai Sadane
Bunyi kemerisik daun bambu
Gema suara serangga-serangga malam
Lantunkan nada-nada
Dendangkan harmoni tembang malam
Menguak sepi di malam nan sunyi

Ku langkahkan kaki menuruni tebing Sungai Sadane
Melalui jalan setapak bertangga batang kayu
Di atas sebongkah batu sebesar kerbau
Aku duduk sambil tengadahkan kepala ke langit biru

Dan, di atas sana ku lihat jutaan bintang kemintang
Sang Dewi Malam  dengan cahayanya yang terang benderang
Sejukkan hati nan gundah, tenangkan pikiran nan bimbang
Lenyapkan rasa amarah berang kepalang
Terhadap manusia tamak, pongah dan serakah
Seperti nyamuk-nyamuk penghisap darah yang terus menggigit
Dan tak mau berhenti sebelum perutnya membuncit

Kp. Pangarakan, Bogor
Sabtu, 16 Maret 2013 21:45 wib




Amarah Pertala
Denmas Priyadi 

Geram gelegar pertala usik marcapada
Saksikan prilaku dan ulah manusia
Yang tak lagi berunggah-ungguh kedepankan etika
Sana sini hanya umbar syahwat
Nafsu angkaranya pun kian menggeliat

Yang digugu dan ditiru lenyapkan rasa malu
Yang digdaya dan kuasa cengkeramkan kuku
Pancanakanya pun kian menghujam
Membenam semakin dalam
Menusuk jantung dan merobek selimut social
Masyarakat kecil yang kian melemah, gontai dan lunglai
Tiada berdaya…
Ya, yang tak lagi punya daya dan upaya

Kp. Pangarakan-Bogor
 Selasa, 05 Maret 2013 06:30wib

Kamis, 26 Juni 2014

Puisi "KEMAHAANNYA" Karya S. Priyadi 42

Ojo Dumeh, Jumat, 27 Juni 2014 11:34 wib
Katak bernasib tragis

“KEMAHAANNYA”
(Inspirasi Dari Peristiwa Tragis Sang Katak)
Karya Slamet Priyadi 42
  
Roda-roda motor ojek itu terus saja berputar
Berkelak-kelok hindari jalan berlubang besar
Di sepanjang jalan sempit yang tak berlampu
Saat gerimis rinai menyapu daun-daun berdebu
Basahkan jalan,  segarkan tumbuhan semak perdu
Yang berjejer di kiri dan kanan jalan becek berbatu

Tepat pukul tiga lewat tiga puluh tiga pagi
Persis di bawah pintu gerbang sekolah polisi
Motor ojek yang aku tumpangi pun berhenti
Segera aku berikan Kentung pengojek langganan
Uang recehan limaribuan yang ada digenggaman
Lalu ku seberangi Jalan yang mulai penuh kendaraan

Aku berdiri sendiri di tepi jalan raya berpayung cembung
Yang bercorak klasik motif daun sembung bunga kawung
Menanti tumpangan bus jurusan Sukabumi-Pulo Gadung
Yang belum jua muncul sebab kemacetan begitu kadung
 Bunyi kendaraan yang semakin bising meraung-raung
Adalah rebak rasa amarah yang kian menggunung

Sementara gerimis rinai itu, pun belum jua mau berhenti
Basahi, licinkan jalan sepanjang Jalan Raya Ciawi-Sukabumi
Dari dalam lubang batu yang ditumbuhi rumput ilalang
Tiba-tiba keluar seekor katak melompat-lompat panjang
Dikejar ular welang warna hitam dan kuning belang-belang
Saat lompat katak disergap tak berdaya nyawapun melayang

Aku tak perduli dengan peristiwa tragis katak yang perlaya-layang
Sebab bus Sukabumi-Pulo Gadung yang kutunggu sudahlah datang
Akupun segera melompat ke dalam bus lewat pintu belakang
Duduk riang di bagian belakang di bangku tiga panjang lapang
 Laju menuju Jakarta ‘tuk laksanakan tugas yang menghadang
Yang harus diselesaikan dengan hati penuh ikhlas dan tenang

Meskipun masih terngiang-ngiang dan terbayang-bayang
Akhir hayat sang katak yang tragis dimangsa ular welang
Yang timbulkan emphati rasa jantung berdegup kencang
Aku akan selalu tetap sikapi hidup dengan hening tenang
Karena kehidupan memang sudah ada yang merancang
Dialah Sang Maha Raja Penguasa Jagad Semesta Yang...

Yang Maha Menentukan, Yang Maha Menciptakan
Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan
Yang ke-Mahaan-Nya adalah segala macam ke-Mahaan
Yang tak bisa lagi diungkap dengan makna dan kata-kata
TUHAN

Jumat, 27 Juni 2014 11:34 wib
Bumi Pangarakan, Bogor

Seorang Wisatawan Pantai Sukabumi Hilang Tenggelam



Kamis, 26 Juni 2014 21:51 WIB 
Pewarta: Aditya A Rohman

Korban tenggelam
Sukabumi (ANTARA News) - Seorang wisatawan hilang tenggelam setelah terseret ombak di Pantai Citepus Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis.
Informasi yang dihimpun Antara dari Basarnas Pos Sukabumi, Kamis, korban diketahui bernama Habudin (15) warga Kampung Pasirhawur, Desa Bojonggaling, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi.

Korban hilang tenggelam saat bermain bola bersama rekan-rekannya di pantai, namun usai bermain bola korban diduga langsung berenang namun kemudian terseret ombak besar yang menyebabkannya hilang tenggelam.

"Ciri-ciri korban kulit sawo matang dan saat kejadian Habudin  menggunakan kaos warna hitam dan celana pendek hitam salur merah," kata Wakil Komandan Basarnas Pos Sukabumi, Zulfikri kepada Antara, Kamis.

Menurut Zulkifli, setelah menerima laporan kecelakaan tersebut pihaknya langsung melakukan pencarian terhadap jasad korban yang juga berkoordinasi dengan SAR Daerah, Badan Penyelamat Wisata Tirta Palabuhanratu, Tim Penyelam, SAR Polres Sukabumi dan TNI AL.

Namun, hingga Kamis malam jasad korban belum juga ditemukan dan rencananya pencarian akan dilanjutkan pada Jumat (27/6).

Lebih lanjut, Zulkifli mengatakan untuk pencarian pada Kamis ini dilakukan dengan cara menyisir pantai di sekitar tempat kejadian musibah dan sudah membentuk tim untuk melakukan pencarian baik di laut maupun di pantai. Diduga jasad korban terbawa arus bawah laut dan terselip di bebatuan karang.

"Diharapkan jasad korban bisa ditemukan dengan cepat dan cuaca pun mendukung, karena dalam beberapa hari ini kerap turun hujan deras yang menyebabkan kami kesulitan dalam melakukan pencarian korban kecelakaan laut," tambahnya.

Ia menyebutkan dalam sepekan terakhir, sudah ada empat kasus kecelakaan laut yang terjadi di Laut Sukabumi dengan jumlah korban sebanyak lima orang.

Zulkifli menyebut dari lima korban, tiga diantaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara dua orang lagi masih dalam pencarian yakni Ageng Dwi wisatawan asal Bogor yang hilang tenggelam di Pantai Pangumbahan, Kecamatan Ciracap dan Habudin yang baru saja menjadi korban kecelakaan laut di Pantai Citepus. (KR-ADR/A039) 

Editor: Ruslan Burhani