Sabtu, 17 Januari 2015

Slamet Priyadi : "PUISI LAKON"

Sambut Sang Mentari Pagi (Foto: SP)
Sambut Sang Mentari Pagi
 SKETSA GARIS-GARIS
By Slamet Priyadi

Kehidupan itu laksana sketsa garis-garis
Karya Sang Maestro Sang Maha Pelukis
Ada garis tegak, lurus,lengkung berbaris
Garis diwarnai, dihapus tak bisa digubris
Sketsa lukis jadi indah atau jelek berkais
Adalah mutlak kehendak Hiyang Pelukis
Kita hanyalah bisa berupaya melangkah
Menuju langit di atas pun bumi di bawah
Ketentuannya ada pada kehendak Allah
Sang Maha Hakim penentu benar salah

Minggu, 18 Januari 2015 05:10 WIB
Slamet Priyadi
Di Pangarakan, Bogor

PERILAKU
By Slamet Priyadi

Tampilan sampeyan memang patutlah dipuji
Laksana orang suci para kiyai bahkan wali
Di mana tempat bicara tentang ajaran religi

Kepada orang-orang umbar rasa benar sendiri
Tentang ajaran suci berdasarkan kebenaran diri
Tak pernah mau mengerti maunya dimengerti

Laku Sampeyan memang teramat kurang ajar
Tak pernah mau mendengar maunya didengar
Lain di dalam lain pula laku sampeyan di luar

Yakh, keburukan memang tak perlu dipancar
Sadari saja begitu memang lakon para penalar
Paling suka hidup yang penuh hingar bingar
Nampak sangar, gahar dan tak pernah benar

Sabtu, 17 Januari 2015 – 15:08 WIB
Slamet Priyadi
Di Pangarakan, Bogor

Minggu, 04 Januari 2015

PERISTIWA ANEH DI KP. PANGARAKAN BOGOR



Orang tua temani anaknya dlm Sunat masal di Kp. Pangarakan
TUYUL BERGAJUL DI PANGARAKAN
Karya Slamet Priyadi

Kampung Pangarakan kini sudah tak aman berjaya
Bukan  karena  perang  antar suku,  ras dan agama
Bukanlah  pula  perang  antar warga  penyebabnya
Bukanlah  pula  karena  pencurian yang meraja lela
Tapi  karena  seringnya  uang  hilang entah ke mana
Hilang lenyap raib  penuh  misteri  jadi tanda tanya

Peristiwa  dan kejadian  seperti ini  berulang terjadi
Dialami  oleh  para  tetangga  terutama  aku  sendiri
Anehnya  uang  yang  hilang  kisaran  seratus ribuan
Baik  di  dompet, bawah kasur atau di  lemari paka
Menyulut  pertengkaran  antar saudara saling curiga
Bahkan suami-istri saling tuduh tak ada juntrungnya

Suatu ketika, aku  ambil gaji  di  Bank DKI Cililitan
Jumlah  uang  gaji  itu  benar  berjumlah  lima jutaan
Sudah kulihat sendiri pada mesin yang diperlihatkan
Oleh kasir bank  DKI  yang  bersikap ramah sopan
Dan, sudah kuhitung ulang pula untuk membuktikan
Kebenaran,ketepatan jumlah uang yang diserahkan

Setiba  di rumah  aku  hitung kembali uang gaji di tas
Sungguh  aku heran bukan kepalang hatiku was-was
Uang  itu  berkurang jadi empat juta lapan ratus  pas
Peristiwa  sama  dialami  pula tetangga depan rumah
Yang  berkisah akan keheranannya peristiwa kaprah
Yang terjadi di Kp.Pangarakan dan Kampung Sawah

Ketika  di rumah adakan acara sunat masal bersama
Oleh Perhimpunan Dokter RS Cipta Mangunkusuma
Dan Perkumpulan  Alumni  SD Sabda Palon Jakarta
Kejadian  uang  hilang secara  gaib kembali berulang
Ada tiga orang  dokter yang  merasa  uangnya hilang
Padahal ada di  dalam dompet yang masih dipegang
Dokter-dokter  itu seperti  mengalami peristiwa aneh
Uang yang di dompet sebanyak dua ratus ribu rupiah
Raib secara misterius lenyap dalam waktu bersamaan
Lalu bertanya kepada istriku dengan rasa  keheranan:

“Bu, apa di daerah ini ada orang yang pelihara tuyul?”
Jawab istriku: “Itu mungkin  saja, bu dokter!
Karena uang gaji suami saya, juga sering raib secara 
mengherankan setiba di rumah ditarik tuyul bergajul!”

Minggu, 04 Januari 2015—12:37 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor
Semak belukar jadi sarang ular
Salah satu dari tiga anak ular yg masuk ke dalam rumah
SEMAK BELUKAR ITU SARANG ULAR
Karya Slamet Priyadi

Hujan rinai yang  terus-menerus  sirami  bumi pangarakan
Tumbuh-segarkan  segala  tanaman  yang  ada di  halaman
Rumput gajah dan tapak liman merah tumbuh berserakan
Jambu  kelutuk, jeruk limau, bluntas, dan dondongg  jaran
Jikalau kita  bisalah  mengolahnya,  dibuat  jadikan ramuan
Adalah  obat peurun darah, koreng, batuk, dan bau badan

Sementara  tanah  di  samping rumah tumbuh  semak belukar
Gumuk Ilalang  semakin membesar menyebar jadi sarang ular
Kobra, sanca  menjalar, ular hijau di  batang bluntas melingkar
Di batang pohon mangga dua tokek jantan sedang bertengkar
Bertarung rebutkan tokek betina yang lari bersembunyi di akar
Menanti sang tokek jantan pemenang untuk hening berkelakar

Suatu ketika cucuku buka tas tempat mainan yang ada di lantai
Tidak dinyana  di dalamnya  ada ular kobra  kecil ke luar  lalu lari
Menggeliat-geliat di lantai kemudian sembunyi di bawah lemari
Secepatnya  kuangkat  kugendong cucuku letakkan di atas kursi
Tak mau  ambil resiko, kuambil seciduk air panas dari dispenceri
Lalu kusiramkan  seciduk air panas itu ke ular kobra sampai mati

Suatu ketika di  dapur ada ular hijau ditumpukan kacang panjang
Yang  akan  dibuat sayur tumis kacang dan kembang paya lanang
Untung  saja  istriku  lihat jelas ular itu yang  bergerak bergoyang
Istriku kaget menjerit-jerit minta  tolong  akupun  segera datang
Cepat kuambil  pedang  yang  tergantung  di  dinding sisi  wayang
Lalu kutebas leher  ular hijau itu hingga nyawanya pun melayang 

Suatu ketika saat menantuku hendak  pergi mandi di siang bolong
Tiba-tiba, ia berteriak-teriak, menjerit-jerit  keras meminta tolong
Di  kamar mandi  ular kobra  besar  melingkar  di kran air rempong
Segera  aku siram dengan air panas, ular melesat ke sudut gorong
Kusiram lagi ular itu dengan air panas sampai kulitnya mengelupas
Sebab minggu  yang lalu  tetanggaku juga digigit ular hingga tewas  

Belum lama ini sekitar sebulan yang lalu pun ada tiga ekor anak ular
Masuk kamar mandi  lewat saluran air yang lupa ditutup batu besar
Ketiga  anak ular kobra itu terus  merayap  perlahan-lahan menjalar
Menantuku yang  satu lagi yang berani dan tidak takut  dengan ular
Tangkap ketiga anak ular satu-satu, lalu dimasukkan ke toples besar
ketiga anak ular pun disiram dengan air panas sampai mati terkapar

Sabtu, 03 Januari 2015 – 13:48 WIB
Slamet Priyadi di Pangaraka, Bogor

Rabu, 31 Desember 2014

DUA BUAH PUISI KEJAWEN SLAMET PRIYADI

Slamet Priyadi

DI SAAT MALAM TAHUN BARU 2015
Karya: Slamet Priyadi

Saat sendiri mesu diri dalam kamar tak bercahaya
Aku coba ngeraga sukma melepas jiwa dari raga
Layang kembara ke seluruh negeri naik Rajawali
Tunggang kendarai Garuda Sakti di bumi pertiwi
Jadi pedoman acuan diri dalam memcari jati diri
Menjadikan sejatinya manusia, bersih jiwa sejati
Maka akupun terbang melayang ke angkasa raya
Melanglang gagah perkasa kitari bumi nusantara
Kepakkan sayap seluas jagad tatap bumi persada
Yang penuh segala gerak kehidupan para pekerja
Sambut meriah malam tahun baru di seluruh kota
Dari Sabang di Sumatra sampai Merauke di Papua

Aku menundukkan kepala tatapkan mata ke bawah
Lihat manusia di seluruh kota begitu melimpah ruah
Berbagai macam jenis hiburan tampil sangat  meriah
Para hidung belang asyik-asyuk di hotel-hotel mewah
Tidak peduli seberapa banyak habiskan banyak uang
yang penting gelora birahi tersalurkan dengan lapang
Saat kelompok musik beraksi di panggung pentas
Pencopet gerayangi saku penonton dengan bebas
Yang asyik menikmati musik cadas beraliran keras
Para polisi tampak sibuk mengatur jalan lalu lintas
yang begitu padat dengan beribu macam kendaraan
Berseliweran di antara manusia berdesak-desakkan

Pedagang terompet merayu pembeli jajakan dagangan
Mereka saling bersaing, harga trompet pun diturunkan
Karena sebentar lagi tepat jam dua belas tengah malam
Saat suara sirine,trompet,klakson kendaraan dibunyikan
Menyambut tahun yang baru dengan penuh pengharapan
Meski serasa perut malam seperti jalan merayap perlahan
Gempita malam tahun baru menggema di segala penjuru
Melupakan haru biru segala masalah yang membelenggu
Berbagai macam-raggam musibah yang datang menggebu
Musibah banjir, tanah longsor, gempa bumi, pesawat jatuh
Dari kasus-kasus korupsi yang sudah dan belum terungkap
Yang dilakukan para manusia-manusia bermuka rangkap

Mereka sangat pandai, berilmu dan berpendidikan tinggi
Tetapi kepandaiannya dipakai untuk menipu dan minteri
Cari siasat agar selamat dari kasus hukum yang menjerat
Dialah politikus, tikus-tikus yang bersifat tamak dan rakus
Dialah penegak hukum yang pandai malak mainkan hukum
Dialah para pejabat bejat, yang suka mengerat uang rakyat
Pandai merubah wajah, merubah diri, mahir berargumentasi
Sementara di desa terpencil masih banyak masyarakat kecil
Hidupnya melarat tak memiliki tanah, tak memiliki rumah
Apa lagi untuk menggarap sebidang kebun sepetak sawah
Bertahan hidup pun hanya dari garap hutan pohon bambu
Yang terletak berdekatan dengan pondoknya yang mungil
Berkarya membuat kerajinan bambu yang dijual di pasar
Jika malam hari tak ada cahaya penerang hanya pelita kecil
Yang sumber apinya dipetik diolah dari buah pohon jarak  
Oleh karena tiada sanggup lagi untuk membeli minyak

Yakh, begitulah faktanya sisi kehidupan di negeri ini
Negeri yang kaya, subur makmur, aman dan sentosa
Negeri yang indah bagaikan zamrud di khatulistiwa
Gemah ripah tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman
Namun perbedaan hidup masih pincang jauh dari nyata
Antara si miskin papa dan si kaya yang paling kuasa
Sementara rasa persatuan antar sesama tak jelas arahnya
Oyak-terkoyak oleh peristiwa-peristiwa perang antar warga
Perang antar suku, antar desa, bahkan perang antar agama
Belum lagi tawuran antar pelajar yang seperti menjadi tradisi
Dari tahun ke tahun masih terus saja berulang-ulang terjadi
Semoga di tahun dua ribu lima belas ini ada perubahan berarti
Di seluruh Nusantara, di Negara Kesatuan Republik Indonesia
S e m o g a !

Rabu, 01 Januari 2015 - 3:54 WIB
Slamet Priyadi di Bumi Pangarakan, Bogor



TERBANG KE GARIS BATAS USIA
Karya: Slamet Priyadi

Mereka pun semakin tinggi-tinggi terbang
Kedua sayap-sayap hitamnya terkembang
Nun jauh di angkasa biru melayang-layang
Menyambut tahun baru segera menjelang

Di saat-saat dalam suasana penuh riang
Tak diduga tak dinyana musibah itu datang
Sang takdir mainkan para wayang-wayang
Boneka wong-wong tak berusia panjang

Roh-roh kerontang nampak membayang
Terbang kembara ke hamparan selayang
Tumbal kecongkakan teknologi menjulang
Yang dipercaya ke depan jaya membentang

Setelah kejadian barulah kesadaran datang
Bahwa segala yang ada pastilah 'kan hilang
Kembali ke alam langgengan Hyang Karang
Sang Penguasa jagad penentu gelap  terang

Rabu, 31 Desember 2014 – 13:30 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor