Selasa, 23 Desember 2014

“KISAH INSPIRATIF PENGGUGAH JIWA”


Denmas Priyadi
Denmas Priyadi
OJO DUMEH - Rabu, 24 Desember 2014  -  Seorang  anak muda  berkeinginan  pergi  berkelana untuk mencari obat dari penyakit yang dideritanya. Bertahun-tahun  ia mengupayakan kesembuhan penyakitnya itu, tetapi  seluruh  pengobatan di kotanya  berada tidak berhasil. Alasan itulah yang mendorongnya untuk pergi meninggalkan  kota kelahirannya; meninggalkan orang tuanya.
 
Sang ayah sangat paham dengan yang diderita anaknya. Sesungguhnya penyakit yang diderita anaknya bersumber dari gangguan syaraf akibat cemas. Akan tetapi, ia mengambil keputusan untuk membiarkan anaknya berkelana. “Langkah ini akan lebih menenteramkan jiwanya”, pikir sang Ayah.

Sudah berapa lama sang anak merantau. Kabar terakhir yang diterima sang ayah memberitakan bahwa anak lelakinya belum juga sembuh. Malam itu setelah melakukan salat tahajud, ia bergegas ke meja. Ditulisnya sepucuk surat untuk anak lelakinya.

Nak, kamu berada 1500 mil dari rumah, dan kamu tidak merasakan perubahan, bukan? Aku tahu tentang hal itu, Anakku. Sebab, kamu pergi sambil membawa serta satu-satunya penyebab dari kesulitan yang sedang menimpa dirimu, yaiyu: dirimu sendiri! Tak ada yang salah dalam tubuhmu. Bukan karena badanmu engkau menjadi sakit. Sesungguhnya ia ada dalam pikiranmu. Sebagaimana yang dipikirkan orang, itulah yang akan dirasakannya. Apabila engkau memahami sepenuhnya kata-kata ayahmu ini Anakku, pulanglah! Pulanglah! Isya Allah, engkau akan sembuh!

Mendapat surat dari ayahnya, sang anak menjadi marah. Ia menganggap bahwa ayahnya tidak sanggup memahami penderitaannya. Kemarahannya memuncak sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali ke rumah orang tuanya. Tidak pernah sama sekali, tekadnya meledak berasama kemarahannya. 

Malam itu ia berada dalam puncak kegundahan. Sang anak terus menyusuri jalanan kota yang disinggahinya. Langkah-langkahnya terhenti ketika di depannya berdiri sebuah masjid yang dipenuhi jamaah. Di dalam masjid sedang berlangsung pengajian. Ia putuskan untuk masuk di dalamnya. Sayup-sayup ia mendengar seorang ustad memberikan taujih-nya. Entah, energi dari mana ia terus mendekat. Di telinganya kata-kata ustad itu terdengar jelas: 

Barangsiapa yang dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia lebih perkasa dari para pahlawan  yang  menaklukkan  kota!  Rasulullah pernah berwasiat kepada kita, “Orang-orang cerdik adalah  mereka  yang  dapat  mengendalikan diriinya,  sekaligus  beramal  untuk bekal sesudah mati.

Anak itu mulai berpikir,  “Ceramah  itu sama  persis  dengan  yang  ditulis  ayah. ”Tiba-tiba  terbersit  cahaya seakan   menerangi   jiwanya.  “Untuk   pertama  kalinnya  dalam  hidup,  aku  lebih  sanggup  melihat  diriku sesungguhnya.  Sesuatu  yang  paling dekat dengan diriku sendiri, dan lama aku abaikan dan tinggalkan.  
Dwi Budiyanto.2009. Prophetic Learning [Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian hal. 32-33]  

Slamet Priyadi di Bumi Pagarakan, Bogor
Selasa, 23 Desember 2014 – 09:45 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar