Tampilkan postingan dengan label Sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

“SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet 42

Image "Golek" ( Foto: SP )
Golek "Dorna"
“SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH”
Karya : Ki Slamet 42
Selorohmu seakan kau sajalah yang terpintar
Berujar kata bahwa akulah yang paling benar
Jika orang  beda dengan pikirmu yang nyasar
Maka ekspresikan amarah berkata-kata kasar
Dalam rasamu, seakan kau sajalah yang besar
Tiada banding  ‘tuk bisa sanding  dalam gelar
Kemana-mana,  kepada siapa saja  berkelakar
Segalanya dianggap remeh tak ada rasa gusar
Suka mencemooh, orang lain dianggap bodoh
Gemar meleceh, meremeh, dumeh berseloroh
Tak bisa tenang tergopoh-gopoh dan ceroboh
Berjalan gagah tiada takut kesandung roboh
Sang Peremeh itu, memang miliki watak dumeh
Kepada orang lain selalu menganggapnya remeh
Umbyang-umbyung bersikap mencelah-menceleh
Ya, si Peremeh, memang dumeh suka  nyeleneh
Kp. Pangarakan, Bogor
Sabtu, 22 Agustus 2015 – WIB


"PUISI-PUISI SLAMET PRIYADI": “SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet...: Golek "Dorna" “SI PEREMEH ITU BERWATAK DUMEH” Karya : Ki Slamet 42 Selorohmu seakan kau sajalah yang terpintar...

Minggu, 19 April 2015

"DUA PUISI" Karya Slamet Priyadi


SKETSA GARIS KEHIDUPAN
Karya:  Slamet Priyadi

Kehidupan itu laksana sketsa garis-garis
Karya Sang Maestro Sang Maha Pelukis
Ada garis tegak, lurus,lengkung berbaris
Garis diwarnai, dihapus tak bisa digubris
Sketsa lukis jadi indah atau jelek berkais
Adalah mutlak kehendak Hiyang Pelukis

Kita, hanyalah  bisa  berupaya melangkah
Menuju langit di atas pun bumi di bawah
Ketentuannya  ada  pada kehendak Allah
Sang  Maha  Hakim  penentu  benar salah



“PENGAWUR AWUR”
Karya : Slamet Priyadi

Tampilan sampeyan memang patutlah dipuji
Laksana orang suci, para kiyai bahkan wali
Tunggang-tungging di masjid sehari lima kali
Di mana tempat bicara tentang ajaran religi

Pada semua orang sesumbar aku orang suci
Yang sikap laku dan bicaranya wajib dituruti
padahal berdasar dari kebenaran diri sendiri
Yang didapat dari mengaji di pesantren Asiri

Melolong gahar seperti  tingkahnya srigala liar
Mendesis, menjalar bagai layaknya seekor ular
Wajah sampeyan pun penuh balur bedak lulur
Berperilaku hitam  sebar putih saling berbaur

Sikap sampeyan, rusak nilai agama dan kultur
Mampu dan bisanya  cuma  bertutur ngawur
Sampeyan sudah tidak mau lagi berlaku jujur
Malah merusak ajaran suci tipu para sedulur

Laku Sampeyan ketahuan teramat kurang ajar
Ajaran sampeyan yang disebar dengan berkoar
Rupanya hanya seperti kembang bunga di latar
Lain di  dalam  lain pula laku sampeyan di luar

Keburukan sampeyan memang belum terpancar
Tapi pada akhirnya semua orang kan tahu benar
Siapa sesungguhnya sampeyan itu wahai pengoar
Jangan berkelakar sebelum jiwa sampeyan bubar

Sabtu, 19 April 2015 – 22:49 WIB
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor

Sabtu, 28 Februari 2015

"KITA CENDERUNG LINGLUNG" Karya Slamet Priyadi


Image "Denmas Priyadi" ( Foto: SP )
Denmas Priyadi
KITA CENDERUNG LINGLUNG
Karya: Slamet Priyadi
Saat  harta  benda kita raib lenyap  sirna hilang
Seketika itu pula pikiran jadi melang kerontang
Lungling, linglung, lunglai ba' rasakan digulung
Tak ada lagi yang bisa dimintai tulung pitulung
Dan kita hanya bisa merunut runut merenung
Tapi kadang keajaiban pun datang menjelang
  Saat atma  jauh  kembara lalang-melanglang  
Serahkan  segala resah dan gundah melayang
Di alam sunyi sepi kosong hampa tiada terang
Dari alam yang tak kita kenal benda itu datang
Menyapa disaat kita berbaring di bale panjang
Berseloroh bertegur  sapa sambil berkata-kata
"Sejak kemarin aku di sini, wahai tuan lelaki tua
 Sama sekali tak pernah berubah bentuk warna."
Dan, aku jadi tertawa, huaa, ha, ha, ha, ha, ha
Maafkan  aku  sang harta benda selimutdunia!
   Aku ini memang sudah  banyak  lupa dan alpa   
Bertumpuk  dosa  penuh  curiga  pada sesama

Minggu, 01 Febuari 2015 - 02:14
Pangarakan, Bogor 

"SAJAK PUISI SLAMET PRIYADI": KITA CENDERUNG LINGLUNG Karya Slamet Priyadi: Denmas Priyadi KITA CENDERUNG LINGLUNG Karya: Slamet Priyadi Saat   harta   benda   kita  raib  lenyap   sirna hilang.

Selasa, 23 Desember 2014

“KISAH INSPIRATIF PENGGUGAH JIWA”


Denmas Priyadi
Denmas Priyadi
OJO DUMEH - Rabu, 24 Desember 2014  -  Seorang  anak muda  berkeinginan  pergi  berkelana untuk mencari obat dari penyakit yang dideritanya. Bertahun-tahun  ia mengupayakan kesembuhan penyakitnya itu, tetapi  seluruh  pengobatan di kotanya  berada tidak berhasil. Alasan itulah yang mendorongnya untuk pergi meninggalkan  kota kelahirannya; meninggalkan orang tuanya.
 
Sang ayah sangat paham dengan yang diderita anaknya. Sesungguhnya penyakit yang diderita anaknya bersumber dari gangguan syaraf akibat cemas. Akan tetapi, ia mengambil keputusan untuk membiarkan anaknya berkelana. “Langkah ini akan lebih menenteramkan jiwanya”, pikir sang Ayah.

Sudah berapa lama sang anak merantau. Kabar terakhir yang diterima sang ayah memberitakan bahwa anak lelakinya belum juga sembuh. Malam itu setelah melakukan salat tahajud, ia bergegas ke meja. Ditulisnya sepucuk surat untuk anak lelakinya.

Nak, kamu berada 1500 mil dari rumah, dan kamu tidak merasakan perubahan, bukan? Aku tahu tentang hal itu, Anakku. Sebab, kamu pergi sambil membawa serta satu-satunya penyebab dari kesulitan yang sedang menimpa dirimu, yaiyu: dirimu sendiri! Tak ada yang salah dalam tubuhmu. Bukan karena badanmu engkau menjadi sakit. Sesungguhnya ia ada dalam pikiranmu. Sebagaimana yang dipikirkan orang, itulah yang akan dirasakannya. Apabila engkau memahami sepenuhnya kata-kata ayahmu ini Anakku, pulanglah! Pulanglah! Isya Allah, engkau akan sembuh!

Mendapat surat dari ayahnya, sang anak menjadi marah. Ia menganggap bahwa ayahnya tidak sanggup memahami penderitaannya. Kemarahannya memuncak sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali ke rumah orang tuanya. Tidak pernah sama sekali, tekadnya meledak berasama kemarahannya. 

Malam itu ia berada dalam puncak kegundahan. Sang anak terus menyusuri jalanan kota yang disinggahinya. Langkah-langkahnya terhenti ketika di depannya berdiri sebuah masjid yang dipenuhi jamaah. Di dalam masjid sedang berlangsung pengajian. Ia putuskan untuk masuk di dalamnya. Sayup-sayup ia mendengar seorang ustad memberikan taujih-nya. Entah, energi dari mana ia terus mendekat. Di telinganya kata-kata ustad itu terdengar jelas: 

Barangsiapa yang dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia lebih perkasa dari para pahlawan  yang  menaklukkan  kota!  Rasulullah pernah berwasiat kepada kita, “Orang-orang cerdik adalah  mereka  yang  dapat  mengendalikan diriinya,  sekaligus  beramal  untuk bekal sesudah mati.

Anak itu mulai berpikir,  “Ceramah  itu sama  persis  dengan  yang  ditulis  ayah. ”Tiba-tiba  terbersit  cahaya seakan   menerangi   jiwanya.  “Untuk   pertama  kalinnya  dalam  hidup,  aku  lebih  sanggup  melihat  diriku sesungguhnya.  Sesuatu  yang  paling dekat dengan diriku sendiri, dan lama aku abaikan dan tinggalkan.  
Dwi Budiyanto.2009. Prophetic Learning [Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian hal. 32-33]  

Slamet Priyadi di Bumi Pagarakan, Bogor
Selasa, 23 Desember 2014 – 09:45 WIB


Minggu, 16 Maret 2014

Sikap Empathy Oleh Slamet Priyadi

Ojo Dumeh – Minggu, 16 Maret 2014 – 14:34 WIB –  Empati merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menempatkan diri pada situasi masalah tertentu yang dihadapi orang orang lain. Kemampuan tersebut adalah keikhlasan dan ketulusan dalam mau mendengarkan, mau memahami, dan mau mengerti lebih awal dengan situasi dan kondisi psikologis yang dialami seseorang.

Dengan berupaya memahami dan mengerti serta mau mendengarkan orang lain terlebih dahulu, maka akan membangun suasa keterbukaan dan saling percaya sehingga terjalin kerja sama yang bersinergi di antara keduanya, tanpa beban psikologis yang bisa mendatangkan penyakit kejiwaan.

"E m p a t i"
By Slamet Priyadi

saat kita mampu posisikan diri
pada situasi atau  kondisi
yang di hadapi orang lain
disanalah empathy kita bermain

dalam kemampuan diri kita
untuk mau memahami
untuk mau mengerti
untuk mau mendengarkan
hanyut pada pokok persoalan
seakan kita sama mengalaminya
mau memahami dan mendengarkan
terlebih awal segala keluhan

disanalah akan terbangun kepercayaan
disanalah akan terbangun keterbukaan
membangun kerja sama yang diperlukan
dalam mengatasi persoalan
meringankan beratnya beban
meringankan perihnya sakit radang
dalam jiwa, hati dan pikiran seseorang

curahan rasa simpati
yang penuh dengan keikhlasan
sirnakan beban psikologis
endapkan rasa jiwa egois
tumbuhkan toleransi
kembangkan kebersamaan
dalam satu rasa
senasib sepenanggunan

Bumi Pangarakan Lido, Bogor
Minggu, 16 Maret 2014 – 13:16 WIB

 


Referensi:
Choki Wijaya, Seni Berbicara & Berkomunikasi
Penulis:
Slamet Priyadi Pangarakan, Bogor